Skip to content

Hubungan Motivasi Belajar Dengan Hasil Belajar






KORELASI ANTARA MOTIVASI BELAJAR

DENGAN HASIL BELAJAR SISWA

PADA MATA PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL


DI KELAS V SEKOLAH DASAR NEGERI 71


PONTIANAK BARAT

PROPOSAL PENELITIAN

Oleh

RAMADANIA

F1081151044



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

JURUSAN PENDIDIKAN DASAR

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS TANJUNGPURA

PONTIANAK

2016


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………………………i

DAFTAR ISI…………………………………………………………………………iii

BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………………………….1

A. Latar Belakang………………………………………………………………………………………..1

B. Masalah Penelitian…………………………………………………………………………………..2

C. Tujuan Penelitian……………………………………………………………………………………..2

D. Manfaat Penelitian ………………………………………………………………………………….2

E. Definisi Operasional ……………………………………………………………………………….4

BAB II KORELASI ANTARA MOTIVASI BELAJAR DENGAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL………………………………………………………………………………………………………….6

A. Motivasi Belajar dalam Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)………………………..6

1. Motivasi Belajar………………………………………………………………………..6

a. Pengertian Motivasi

…………………………………………………………………………. 6

b. Pengertian Motivasi Belajar
………………………………………………………………..7

c. Fungsi Motivasi Belajar
…………………………………………………….8

d. Prinsip Motivasi Belajar
…………………………………………………….9

e. Bentuk-Bentuk Motivasi Belajar……………………………………………9

f. Cara Meningkatkan Motivasi Belajar…………………………………..….10

B. Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial ( IPS )………………… …..…………12

2. Pengertian Belajar…………………………………………………………….12

3. Hasil Belajar…………………………………….………………………….…13

a. Pengertian Hasil Belajar………………..…….……………………………13

b. Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar……………..…………..………14

C. Hakikat Ilmu Pengetahuan Sosial ( IPS )………………………………………16

4. Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)…………..……………. …………16

a. Ruang Lingkup IPS………….…………………………………………….17

b. Tujuan Pendidikan IPS…………….……………………….……………..17

D. Hubungan Motivasi Belajar dengan Hasil Belajar…………………………….19

BAB III METODE PENELITIAN……………………………………………………21

A. Metode Penelitian……………………………………………….………….…..21

B. Bentuk Penilitian……………………………………………………………….21

C. Populasi dan Sampel Penelitian……………………….……………………….22

1. Populasi………………………………………………………………..…….22

2. Sampel……………………………………………………..………….……..23

D. Prosedur Penelitian……………………………………….……………….……23

1. Perencanaan……………………………………………………………….…24

2. Pelaksanaan……..……………………………………..……………………25

3. Pengamatan………………..………………………………………………..25

4. Refleksi………………………………………………………………………25

E. Teknik Pengumpulan Data ……………………………………………………………………..26

1. Angket/ Kuisioner ……………………………………………………………………………. 26

2. Tes …………………………………………………………………………………………………..26

DAFTAR PUSTAKA………………………..………………………………………27


KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim.

Puji syukur kehadirat Allah SWT Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang

yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga proposal penelitian ini dapat

diselesaikan. Proposal penelitian yang disusun penulis dengan judul “Korelasi antara Motivasi dengan Hasil Belajar Peserta Didik pada Mata Pelajaran Ilmu Pendidikan Sosial di Kelas V Sekolah Dasar Negeri 71 Pontianak Barat” adalah salah satu syarat untuk memperoleh nilai dalam tugas akhir mata kuliah Penulisan Karya Ilmiah.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa terselesaikannya proposal penelitian ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Bapak Dr. Kaswari, M. Pd selaku dosen mata kuliah Penulisan Karya Ilmiah yang telah memberi bimbingan kepada penulis dalam penulisan karya ilmiah ini.

2. Kepala sekolah, guru-guru serta tata usaha Sekolah Dasar Negeri 71 Pontianak Barat yang telah memberikan ijin penelitian kepada penulis.

3. Orangtuaku karena beliau adalah alasan terindah yang selalu

mendorong penulis untuk terus bekerja keras meraih impian yang telah dicita-citakan. Terimakasih atas muara kasih dan sayang yang tak pernah surut, untaian doa yang penuh keberkahan, pengorbanan yang ikhlas tanpa mengharap balas jasa, serta motivasi dan dukungan yang tiada henti, sehingga penulis mampu menyelesaikan Proposal Penelitian ini.

4. Sahabat, keluarga, teman-teman dan rekan seperjuangan yang senantiasa member dukungan dan masukkan yang bersifat positif sehingga penulis dapat dengan semangat menyelesaikan proposal penelitian ini dan senantiasa memperbaiki demi kesempurnaan proposal penelitian ini.

5. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah banyak memberikan bantuan baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penyusunan proposal penelitian ini.

Semoga Allah SWT senantiasa senantiasa memberkahi kita semua dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat, khususnya bagi mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dalam mengembangkan dan mengamalkan ilmu pengetahuannya.

Pontianak, 07 Januari 2017

Penulis,


Ramadania



BAB I


PENDAHULUAN



A.





Latar Belakang

Setiap peserta didik memiliki potensi untuk mengembangkan kemampuannya masing-masing. Kemampuan tersebut dapat berupa pengetahuan (kognitif), sikap (afektif) maupun keterampilan (psikomotorik). Kemampuan yang dimiliki peserta didik akan terealisasi dengan baik jika motivasi belajar peserta didik itu juga baik. Selain itu motivasi belajar tentu juga berpengaruh besar pada hasil belajar. Dengan demikian, berawal dari motivasi belajar peserta didik akan mengembangkan kemampuannya dan berujung pada hasil yang memuaskan.

Dalam kenyataanya para peserta didik khususnya di sekolah dasar justru mempunyai motivasi yang rendah untuk belajar. Hal ini terlihat dari antusiasme mereka ketika mengikuti proses pembelajaran. Kebanyakan peserta didik hanya duduk diam tanpa merespon guru yang memberikan materi.

Rendahnya minat peserta didik tersebut tentu brtolak belakang dengan harapan yang diinginkan. Peserta didik yang seharusnya memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar agar mendapatkan hasil yang baik, justru melakukan hal sebaliknya. Kesenjangan antara harapan dan kenyataan yang tidak sejalan ini membuat pendidikan di Indonesia menjadi memprihatinkan. Hal inilah yang menjadi perhatian penulis.

Oleh karena itu penulis ingin menganalisi secara mendalam dengan metode ilmiah. Adapun judul yang penulis usung dalam karya ilmiah ini adalah “Korelasi antara Motivasi dengan Hasil Belajar Peserta Didik pada Mata Pelajaran Ilmu Pendidikan Sosial di Kelas V Sekolah Dasar Negeri 71 Pontianak Barat”. Dengan demikian diharapkan penelitian ini dapat memberikan perbaikan untuk pendidikan peserta didik, khususnya di tingkat Sekolah Dasar kedepannya.


B. Masalah Penelitian

Rumusan masalah pada penelitian ini adalah: “Apakah ada hubungan yang
signifikan antara motivasi belajar dengan hasil belajar IPS pada siswa kelas V
SD Negeri 71 Pontianak Barat?”


C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan yang signifikan antara motivasi belajar dengan hasil belajar IPS pada siswa kelas V SD Negeri 71 Pontianak Barat.


D. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini dibedakan menjadi dua, yaitu manfaat secara teoritis dan manfaat secara praktis

1. Secara Teoritis

Diharapkan hasil penelitian ini mampu memberikan sumbangan wawasan dan ilmu pengetahuan dalam bidang pendidikan khususnya Pendidikan

Guru Sekolah Dasar yang nantinya setelah menjadi guru dapat membantu

siswa dalam meningkatkan hasil belajarnya di sekolah.

2. Secara Praktis

Manfaat praktis penelitian ini dibedakan dalam manfaat praktis bagi siswa, manfaat praktis bagi guru, manfaat praktis bagi peneliti dan manfaat praktis bagi peneliti lain.

a.
Bagi Siswa

Membantu siswa untuk lebih termotivasi dalam meningkatkan hasil

belajarnya di sekolah.

b. Bagi Guru

Menambah informasi bagi guru tentang hubungan motivasi belajar

dengan hasil belajar IPS siswa sehingga guru dapat memberikan

bantuan dan menumbuhkan motivasi belajar siswa, terutama kepada

siswa yang hasil belajarnya rendah di sekolah sehingga hasil

belajarnya dapat meningkat.

c. Bagi Peneliti

Dapat bermanfaat sebagai dasar untuk penelitian lebih lanjut mengenai motivasi siswa dalam belajar.

d. Bagi Peneliti Lain

Menambah wawasan dan pengetahuan bagi peneliti lain mengenai

hubungan bimbingan orang tua dengan hasil belajar siswa.


E. Definisi Operasional







Definisi operasional bertujuan untuk memberikan gambaran yang sama antara pembaca dan penulis dalam memahami istilah yang digunakan dan memberi batasan kepada peneliti mengenai ruang lingkup penelitian.

1. Korelasi

Menurut Anas Sudijonon (2010: 179) kata, “korelasi” berasal dari bahasa Inggris
Correlation. Dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan dengan “hubungan”, atau “saling berhubungan”, atau “hubungan timbale balik”. Korelasi yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu korelasi antara motivasi berprestasi dengan hasil belajar siswa pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial kelas V Sekolah Dasar Negeri 71 Pontianak Barat

2. Motivasi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 930) “Motivasi yaitu dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan sesuatu tindakan dengan tujuan tertentu”. Khususnya untuk meningkatkan hasil belajar pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial kelas V Sekolah Dasar Negeri 71 Pontianak Barat.

3. Belajar

Menurut Slameto (2010:2) belajar adalah suatu proses usaha

yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku

yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu

sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

4. Hasil Belajar

Asep Jihad dan Abdul Haris ( 2009: 15) menyatakan “Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melakukan kegiatan belajar yang sesuai dengan tujuan pembelajaran”. Hasil belajar dalam penelitian ini adalah skor atau nilai yang diperoleh melalui tes yang dilakukan kepada siswa yang diajar khususnya pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial kelas V Sekolah Dasar Negeri 71 Pontianak Barat.

5. Ilmu Pengetahuan Sosial ( IPS )

Menurut Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang standar isi menyatakan

bahwa IPS merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai

dari SD/MI/SDLB sampai SMP/MTs/SMPLB. IPS mengkaji seperangkat

peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu

sosial. Pada jenjang SD/MI mata pelajaran IPS memuat materi geografi,

Popular:   Gambar Kata Kata Motivasi Buat Pacar

sejarah, sosiologi, dan ekonomi. Melalui mata pelajaran IPS, peserta

didik diarahkan untuk dapat menjadi warga negara Indonesia yang

demokratis, dan bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, penulis simpulkan bahwa IPS

adalah penyederhanaan dari disiplin ilmu-ilmu sosial, mengakaji

tentang fakta dan isu-isu sosial yang berhubungan dengan lingkungan

sekitar. Melalui mata pelajaran IPS siswa diarahkan menjadi warga

Negara Indonesia yang baik dan diharapkan dapat meningkatkan hasil

belajar siswa.


BAB 11


KORELASI ANTARA MOTIVASI BELAJAR DENGAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL


A. Motivasi Belajar dalam Ilmu Pengetahuan Sosial ( IPS )


1. Motivasi Belajar

a. Pengertian Motivasi

Motivasi adalah suatu stimulus atau dorongan dari dalam maupun dari luar siswa untuk belajar secara aktif. Sardiman (2012:102) menyatakan bahwa motivasi berpangkal dari kata “motif”, yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan.

Sumadi Suryabrata dalam Djaali (2008:101) menjelaskan bahwa motivasi adalah keadaan yang terdapat dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas tertentu guna pencapaian suatu tujuan. Motivasi juga bisa berbentuk usaha-usaha yang dapat menyebabkan seseorang tergerak untuk melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau memperoleh kepuasan dengan perbuatannya.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, penulis menyimpulkan bahwa motivasi adalah segala dorongan yang ada pada seseorang untuk melakukan sesuatu demi tercapainya suatu tujuan yang dikehendakinya.

b. Pengertian Motivasi Belajar

Motivasi belajar mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar

seseorang. Motivasi belajar merupakan satu diantara faktor yang menentukan keberhasilan dalam proses belajar, karena tanpa adanya motivasi mustahil seorang siswa dapat berhasil dalam belajar.

Koeswara dalam Dimyati dan Mudjiono (2006:80) mengartikan motivasi belajar sebagai kekuatan mental yang mendorong terjadinya belajar. Kekuatan mental tersebut berupa keinginan, perhatian, kemauan atau cita-cita. Adanya keinginan atau cita-cita, maka siswa akan bersungguh-sungguh dalam mengikuti pembelajaran. Siswa akan memperhatikan penjelasan dari guru dan ikut berpartisipasi aktif dalam

proses pembelajaran.

Sardiman (2012:75) mengatakan motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak dari dalam diri siswa yang menimbulkan keinginan belajar, yang menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan member arah pada kegitan belajar sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.

Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, penulis menyimpulkan bahwa motivasi belajar adalah daya penggerak atau dorongan internal maupun eksternal pada seorang siswa untuk melakukan suatu perubahan dalam belajar guna mencapai hasil belajar yang optimal.

c. Fungsi Motivasi Belajar

Setiap kegiatan yang dilakukan pasti didasari oleh adanya motivasi, dan motivasi telah bertalian dengan tujuan. Sehubungan dengan hal tersebut ada tiga fungsi motivasi yang disebutkan oleh Sardiman (2012:85), yaitu:

a. Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.

b. Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberiakan arah dari kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.

c. Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan yang harus dikerjakan secara serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.

Sedangkan menurut Djamarah (2008:157) fungsi motivasi diantaranya adalah sebagai berikut:

a. Motivasi sebagai pendorong perbuatan.

Motivasi yang berfungsi sebagai pendorong ini mempengaruhi sikap apa yang seharusnya anak didik ambil dalam rangka belajar.

b. Motivasi sebagai penggerak perbuatan.

Dorongan psikologis yang melahirkan sikap terhadap anak didik ini merupakan suatu kekuatan yang tak terbendung, yang kemudian terjelma dalam bentuk gerakan psikofisik.

c. Motivasi sebagai pengarah perbuatan.

Anak didik yang mempunyai motivasi dapat menyeleksi mana perbuatan yang harus dilakukan dan mana perbuatan yang diabaikan.

d. Prinsip Motivasi Belajar

Sedangkan Mc. Donald dalam Sardiman (2012:74), mengemukakan bahwa ada tiga elemen penting dalam motivasi yaitu :

a. Bahwa motivasi mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu. Karena motivasi menyangkut perubahan energi manusia, maka penampakannya akan menyangkut kegiatan fisik manusia.

b. Motivasi ditandai dengan munculnya rasa/“feeling”, afeksi seseorang. Motivasi relevan dengan persoalan kejiwaan, afeksi dan emosi yang dapat menentukan tingkah laku manusia.

c. Motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan. Motivasi muncul dari dalam diri seseorang, namun kemunculannya karena terangsang oleh adanya unsur lain, dalam hal ini adalah tujuan.

e. Bentuk-Bentuk Motivasi Belajar

Dari pendapat para ahli yang telah dipaparkan penulis menarik kesimpulan bahwa motivasi belajar memiliki peranan yang penting dalam kegiatan pembelajaran. Jika tidak ada motivasi berarti tidak ada kegiatan belajar. Supaya peranan motivasi lebih optimal, maka prinsip-prinsip motivasi belajar tidak hanya sekedar diketahui, namun perlu diterapkan dalam proses pembelajaran. Ada beberapa prinsip-prinsip motivasi seperti yang telah uraikan dari beberapa pendapat di atas, yaitu motivasi sebagai dasar penggerak yang mendorong sesorang untuk belajar, motivasi berupa pujian lebih baik daripada hukuman, motivasi dapat memupuk optimisme dalam belajar, motivasi melahirkan prestasi dalam belajar, dan motivasi muncul karena adanya tujuan. Dalam perkembangannya, terdapat berbagai macam motivasi. Sardiman (2012: 89-91) membagi motivasi belajar menjadi dua yaitu:

a. Motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam setiap diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Contohnya minat, kesehatan, bakat, disiplin dan intelegensi.

b. Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena ada perangsang dari luar. Contohnya keluarga, fasilitas, jadwal, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat.

f. Cara Meningkatkan Motivasi Belajar

Sardiman (2012:92) menjelaskan bahwa ada beberapa cara yang dapat dilakukan

untuk menumbuhkan motivasi anak didik dalam kegiatan belajar di sekolah yaitu:

(a) memberi angka, dalam hal ini angka sebagai simbol dari nilai kegiatan pembelajaran; (b) hadiah; (c) saingan/kompetisi, persaingan baik individu maupun kelompok dapat memotivasi siswa untuk berprestasi; (d)
Ego-involvement, dengan

menumbuhkan kesadaran terhadap anak agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan adalah salah satu bentuk motivasi yang sangat penting; (e) memberi ulangan, siswa akan menjadi giat belajar jika mengetahui akan ada ulangan; (f) mengetahui hasil, dengan mengetahui hasil belajar apalagi jika

terjadi kemajuan akan memotivasi siswa untuk giat belajar; (g) pujian, dengan pujian akan meningkatkan gairah belajar dan membangkitkan harga diri; (h) hukuman, hukuman sebagai
reinforcement
yang negatif tetapi jika diberikan secara tepat dan

bijak bisa menjadi alat motivasi; (i) hasrat untuk belajar, berarti ada unsur kesengajaan dan ada maksud untuk belajar; (j) minat, proses pembelajaran akan berjalan lancar bila disertai dengan minat; (k) tujuan yang diakui, siswa akan termotivasi untuk belajar jika mengetahui tujuan/ pentingnya materi yang akan ia pelajari. De Decce dan Grawford (Djamarah, 2008:169) menyebutkan ada empat upaya yang dapat dilakukan guru sebagai pengajar yang berhubungan dengan cara pemeliharaan dan peningkatan motivasi belajar anak didik yaitu :

a. Guru harus dapat menggairahkan anak didik

Guru hendaknya menghindari kegiatan yang monoton dan terus menerus dalam proses pembelajaran, sehingga menyebabkan anak didik merasa bosan. Guru harus memelihara minat anak didik dengan memberikan kebebasan tertentu dalam situasi

belajar dan menggunakan metode pembelajaran yang menarik.

b. Memberi harapan realistis

Guru perlu memiliki pengetahuan yang cukup mengenai keberhasilan atau kegagalan akademis setiap peserta didik. Sehingga guru dapat memelihara harapan-harapan anak didik yang realistis dan memodifikasi harapan-harapan yang kurang atau tidak realistis.

c. Memberi insentif

Guru diharapkan dapat memberikan hadiah kepada anak didik yang mengalami keberhasilan dapat berupa pujian, angka yang baik, dan sebagainya.

d. Mengarahkan perilaku anak didik

Mengarahkan anak didik adalah tugas guru. Guru dituntut untuk dapat memberikan respon terhadap anak didik yang pasif, tidak ikut serta dalam pembelajaran, anak didik yang gaduh dengan cara memberikan teguran yang arif dan bijaksana. Mengingat demikian pentingnya motivasi belajar bagi siswa dalam kegiatan belajar. Maka guru diharapkan dapat membangkitkan motivasi belajar siswa. Berdasarkan uraian di atas, penulis menyimpulkan ada banyak cara yang dapat digunakan guru untuk membangkitkan motivasi belajar siswanya, yaitu dengan menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi, menumbuhkan rasa ingin tahu siswa, membangkitkan

minat belajar, memberikan hadiah, pujian, dan membantu siswa merumuskan tujuan belajar.


B. Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial ( IPS )

Popular:   Kata Kata Motivasi Inggris Dan Artinya


2. Pengertian Belajar

Belajar adalah ilmu kehidupan yang dilakukan oleh setiap manusia yang ingin mengetahui atau melakukan sesuatu yang baru. Dengan kata lain, belajar adalah proses setiap orang melakukan perubahan yang relative permanen dalam perilaku sebagai hasil dari pengalaman serta latihan yang dilakukan secara terus-menerus.

Menurut Djamarah (2008:13) yang dimaksud belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannnya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotor.

Sedangkan menurut Slameto (2010:2) belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Selanjutnya, menurut Sardiman (2012:21) belajar adalah rangkaian

kegiatan jiwa raga, psiko-fisik, untuk menuju ke perkembangan pribadi seutuhnya, yang berarti menyangkut unsur cipta, rasa, dan karsa, ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Dari pemaparan diatas penulis menarik kesimpulan bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan dalam diri manusia yang tampak dalam perubahan tingkah laku, perubahan tersebut diantaranya meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotor.


3. Hasil Belajar

a. Pengertian Hasil Belajar

Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Setelah suatu proses belajar berakhir, maka siswa memperoleh suatu hasil belajar. Hasil belajar mempunyai peranan penting dalam proses pembelajaran. Hasil belajar digunakan untuk mengetahui sebatas mana siswa dapat memahami serta mengerti materi tersebut.

Menurut Hamalik (2001:49) hasil belajar sebagai tingkat penguasaan yang dicapai oleh pelajar dalam mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan yang ditetapkan. Menurut Dimyati dan Menurut Susanto (2013:5) hasil belajar merupakan perubahan yang terjadi pada diri siswa, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotor sebagai hasil dari belajar. Berdasarkan pengertian hasil belajar di atas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah suatu hasil yang diperoleh siswa setelah siswa tersebut mengikuti proses pembelajaran yang menjadi bukti tingkat keberhasilan yang telah dicapai oleh seorang siswa dengan melibatkan aspek kognitif, afektif maupun psikomotor, yang dinyatakan dalam

angka atau skor.

b. Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan hasil interaksi antara beberapa faktor yang mempengaruhi baik dari dalam maupun dari luar. Menurut Dalyono (2012:55) berhasil atau tidaknya seseorang dalam belajar disebabkan beberapa faktor yang mempengaruhi pencapaian hasil belajar yaitu berasal dari dalam diri orang yang belajar
(internal)
meliputi kesehatan, intelegensi dan bakat, minat dan motivasi, dan cara belajar serta ada

pula dari luar dirinya
(eksternal)
meliputi lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, dan lingkungan sekitar.

Menurut Slameto (2010:54-72) faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar digolongkan menjadi dua, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar, sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu. Berikut faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar:

1.
Faktor intern

Yaitu faktor yang ada di dalam diri individu yang sedang belajar.

Faktor intern terdiri dari:

a. Faktor jasmaniah (kesehatan dan cacat tubuh).

b. Faktor psikologis (intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kesiapan).

c. Faktor kelelahan.

2.
Faktor ekstern

Yaitu faktor yang ada di luar individu. Faktor ekstern terdiri dari:

a. Faktor keluarga (cara orang tua mendidik, relasi antara anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, dan latar belakang kebudayaan).

b. Faktor sekolah (metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar, dan tugas rumah).

c. Faktor masyarakat (kegiatan siswa dalam masyarakat,mass media, teman bergaul, dan betuk kehidupan masyarakat). Berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar tersebut, diketahui bahwa faktor-faktor tersebut berkontribusi besar dalam pencapaian hasil belajar siswa. Faktor-faktor tersebut saling berinteraksi dalam pencapaian hasil belajar siswa dan juga menjadi penunjang keberhasilan siswa dalam belajar. Sehingga, untuk menghasilkan siswa yang berprestasi, seorang pendidik haruslah mampu mensinergikan semua faktor di atas dalam pembelajaran di kelas.


C. Hakikat Ilmu Pengetahuan Sosial ( IPS )


4. Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)

IPS merupakan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan lingkungan sosial siswa. Bidang kajian ilmu yang dipelajari dalam IPS pada jenjang Sekolah Dasar (SD) meliputi materi geografi, sejarah, sosiologi dan ekonomi yang diajarkan secara terpadu. Menurut Muhammad Nu’man Somantri dalam Sapriya (2006:7) pendidikan IPS adalah penyederhanaan disiplin ilmu-ilmu sosial, ideology negara dan disiplin ilmu lainnya serta masalah-masalah social terkait yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan pendidikan pada tingkat dasar dan menengah.

Menurut Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang standar isi menyatakan bahwa IPS merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai dari SD/MI/SDLB sampai SMP/MTs/SMPLB. IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Pada jenjang SD/MI mata pelajaran IPS memuat materi geografi, sejarah, sosiologi, dan ekonomi. Melalui mata pelajaran IPS, peserta didik diarahkan untuk dapat menjadi warga negara Indonesia yang demokratis, dan bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, penulis simpulkan bahwa IPS adalah penyederhanaan dari disiplin ilmu-ilmu sosial, mengakaji tentang fakta dan isu-isu sosial yang berhubungan dengan lingkungan sekitar. Melalui mata pelajaran IPS siswa diarahkan menjadi warga Negara Indonesia yang baik dan diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

a. Ruang Lingkup IPS

Ruang lingkup IPS meliputi kehidupan manusia dalam masyarakat atau sebagai anggota masyarakat atau dapat juga dikatakan manusia dalam konteks sosial. Menurut Permendiknas No. 22 Tahun 2006, ruang lingkup IPS meliputi aspek-asek sebagai berikut:

1) Manusia, tempat, dan lingkungan.

2) Waktu, keberlanjutan, dan perubahan.

3) Sistem sosial dan budaya.

4) Perilaku ekonomi dan kesejahteraan.

b. Tujuan Pendidikan IPS

Tujuan merupakan segala sesuatu atau keinginan yang hendak dicapai. Dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang standar isi menyatakan bahwa Mata pelajaran IPS bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:

1) Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya,

2) Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial,

3) Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan,

4) Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama danberkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional, dan global.

Menurut Hasan dalam Sapriya, dkk., (2006:5) tujuan pendidikan IPS

dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori, yaitu pengembangan intelektual siswa, pengembangan dan rasa tanggung jawab sebagai anggota masyarakat dan bangsa, serta pengembangan diri siswa sebagai pribadi. Selanjutnya menurut Martorella dalam Sapriya, dkk., (2006:8) mengemukakan tujuan utama dari pembelajaran IPS di SD adalah untuk mengembangkan pribadi warga negara yang baik
(good citizen).

Sapriya (2006:133) menyatakan bahwa tujuan IPS yaitu (a) mengajarkan konsep-konsep dasar sejarah, sosiologi, antropologi, ekonomi, dan kewarganegaraan melalui pendekatan pedagogis, dan psikologis, (b) mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, inkuiri,
problem solving,
dan keterampilan sosial, (c) membangun komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan, dan (d) meningkatkan kerja sama dan kompetensi dalam masyarakat yang heterogen baik secara nasional maupun global.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, penulis menyimpulkan bahwantujuan pembelajaran IPS adalah untuk mendidik para siswa agar hasil belajar siswa meningkat dengan mengembangkan keterampilan-keterampilan sebagai bekal untuk memecahkan segala persoalan dalam kehidupan bermasyarakat. Keterampilan tersebut meliputi, keterampilan berpikir kritis, meningkatkan keterampilan bekerjasama dengan teman, dan meningkatkan berpikir kreatif. Selain itu melalui mata pelajaran IPS, siswa diarahkan menjadi warga negara Indonesia yang baik.


D. Hubungan Motivasi Belajar dengan Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan suatu bukti keberhasilan siswa setelah melalui proses pembelajaran di sekolah. Motivasi merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Sardiman (2012:75) mengatakan motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak dari dalam diri siswa yang menimbulkan

keinginan belajar, yang menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberi arah pada kegitan belajar sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai. Sehingga dapat dikatakan bahwa, motivasi adalah pendorong bagi setiap siswa dalam melakukan aktivitas atau kebiasaan-kebiasaan belajarnya. Motivasi belajar membuat seseorang menjadi bergairah dan terarah dalam mencapai tujuan yang diinginkan berupa hasil belajar yang baik. Sedangkan menurut Hanafiah dan Suhana (2010:26) motivasi belajar adalah kekuatan
(power motivation), daya

Popular:   Kata Motivasi Ulang Tahun Untuk Diri Sendiri

pendorong
(driving force),
atau alat pembangun kesediaan dan keinginan yang kuat dalam diri peserta didik untuk belajar secara aktif, kreatif, efektif, inovatif, dan menyenangkan dalam rangka perubahan perilaku, baik dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor.

Motivasi belajar memiliki peranan yang sangat menentukan dan mendorong siswa untuk belajar dengan penuh perhatian dan konsentrasi dalam menerima pelajaran, sehingga tercapai tujuan yang ditunjukkan dengan hasil belajar akan meningkat. Jadi dalam hal ini motivasi belajar berpengaruh terhadap hasil belajar. Siswa yang memiliki motivasi belajar yang tinggi, akan lebih semangat dan bersungguh-sungguh dalam mengikuti proses pembelajaran di sekolah sehingga hasil belajar yang dicapai optimal. Sebaliknya, siswa yang memiliki motivasi belajar yang rendah, maka siswa tersebut kurang bersemangat dalam belajar dan tidak dapat belajar dengan sungguh-sungguh yang nantinya akan berdampak pada pencapaian hasil belajar yang rendah.


BAB III


METODE PENELITIAN


A. Metode Penelitian

Menurut Arikunto (2006:160) metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitian. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif.

Menurut Sugiyono (2012:8) penelitian kuantitatif yaitu metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umummya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.


B. Bentuk Penilitian



Bentuk penelitian merupakan bagian dari metode penelitian, artinya didalam metode penelitian terdapat berbagai bentuk penelitian yang dapan digunakan. Hadari Nawawi (2007: 68) menyatakan bentuk penelitian yang dapat digunakan dalam penelitian deskriptif ini adalah :

a. Survei (Survey Studies)

b. Studi Hubungan (Interrelationship studies)

c. Studi Pengembangan (Developmental Studies)



Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan, maka dalam penelitian ini menggunakan bentuk penelitian studi hubungan (Interrelationship Studies) dengan menggunakan cara penelitian Studi Korelasi (Correlation Studies).



Penelitian dengan cara ini bermaksud untuk mencari ada tidaknya hubungan variable bebas dengan variable terikat. Bentuk penelitian studi hubungan (Interrelationship Studies) dipilih karena sesuai dengan tujuan penelitian yaitu untuk memperoleh informasi mengenai hubungan antara motivasi dengan hasil belajar siswa pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial kelas V Sekolah Dasar Negeri 71 Pontianak Barat.


C. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi

Menurut Sugiyono (2012:80) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Sedangkan, menurut Arikunto (2006:130) populasi adalah keseluruhan dari subjek penelitian. Jadi yang dimaksud populasi adalah individu yang memiliki sifat yang sama walaupun prosentase kesamaan itu sedikit, atau dengan kata lain seluruh individu yang akan dijadikan sebagai obyek penelitian. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri 71 Pontianak Barat yang berjumlah 90 siswa dengan karakteristik sebagai berikut:



1. Bersekolah di Sekolah Dasar Negeri 71 Pontianak Barat



2. Siswa duduk dikelas V



3. Usia siswa minimal 11 tahun

2. Sampel



Sampel adalah sebagian populasi yang menjadi sumber data dalam suatu penelitian. Menurut Sugiyono (2011: 118) mengemukakan bahwa sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar, dan penelitian tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Jika hanya akan meneliti sebagian dari populasi, maka penelitian tersebut disebut dengan penelitian sampel.

Arikunto (2006:134) berpendapat bahwa apabila populasi kurang dari 100, maka sampel di ambil dari keseluruhan populasi yang ada sehingga disebut penelitian populasi. Berdasarkan pertimbangan pendapat ahli tersebut, maka jumlah sampel yang akan diambil dalam penelitian ini adalah keseluruhan dari jumlah populasi. Jumlah populasi sebesar 90 siswa, sehingga dengan demikian peneliti mengambil 100% dari jumlah populasi atau penelitian populasi.


D. Prosedur Penelitian


1.



Perencanaan



Kegiatan Perencanaan antara lain sebagai berikut. (1) identifikasi masalah, (2) perumusan masalah dan analisis penyebab masalah dan (3) pengembangan intervensi.


2.



Tindakan



Tindakan (intervensi) dilaksanakan peneliti untuk memperbaiki masalah. Langkah – langkah praktis tindakan diuraikan seperti Apa yang pertama kali dilakukan ? Bagaimana organisasi kelas ? Siapa yang perlu menjadi kolaborator ? Siapa yang mengambil data ?.


3.



Observasi



Observasi adalah kegiatan pengamatan ( pengambilan data ) untuk memotret seberapa jauh efek tindakan telah mencapai sasaran.


4.



Refleksi



Refleksi adalah kegiatan mengulas secara kritis (reflective) tentang perubahan yang terjadi (a) pada siswa, (b) suasana kelas, dan (c) guru.

Sedangkan pada penelitian tindakan kelas ini keempat tahapan tersebut sebagai berikut :



1.





Perencanaan



Pada tahap perencanaan, guru merencanakan tindakan. Langkah –langkah merencanakan tindakan meliputi sebagai berikut :


a.



Menentukan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar.


b.



Menyesuaikan materi dengann Kompetensi Dasar yang disesuaikan dengan waktu penelitian.


c.



Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran.


d.



Menyiapkan media pembelajaran, yaitu kantong bilangan dan sedotan.


e.



Menyiapkan materi pembelajaran.


f.



Membuat alat observasi untuk guru


g.



Membuat alat evaluasi untuk siswa.



2.





Pelaksanaan



Setelah tahap perencanaan, tahap selanjutnya adalah tahap pelaksanaan penelitian. Pelaksanaan penelitian dilakukan oleh guru selaku peneliti yaitu pembelajaran Matematika dengan materi pengurangan dua bilangan dua angka dengan media kantong bilangan.



3.





Pengamatan



Tahap selanjutnya adalah pengamatan, pada tahap pengamatan guru selaku peneliti dibantu oleh kolaborator untuk mengamati pelaksanaan pembelajaran. Matematika materi pengurangan dua bilangan dua angka. Kolaborator akan mengamati pembelajaran untuk mendapatkan data keberhasilan ataupun kegagalan terhadap pelaksanaan pembelajaran.



4.






Refleksi







Pada tahap refleksi, guru selaku peneliti berkolaborasi menganalisis informasi yang diperoleh masing-masing tentang perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan nilai hasil belajar siswa tentang pengurangan dua bilangan dua angka dengan media kantong bilangan. Pada tahap refleksi akan ditentukannya tindakan selanjutnya.


E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:


1. Angket / Kuisioner

Menurut Sugiyono (2012:142) kuesioner merupakan teknik pengumpulandata yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan ataupertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Dalam penelitian ini, instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data tentang motivasi belajar adalah angket atau kuesioner tertutup. Arikunto (2006:194)mmengemukakan bahwa kuesioner tertutup merupakan jenis kuesioner yang sudah disediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih. Isi kuesioner berjumlah 25 soal pernyataan dengan 4 pilihan jawaban.


2. Tes

Menurut Arikunto (2008:193) tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Sedangkan menurut Sukardi (2012:138) tes merupakan prosedur sistematik dimana individual yang dites direpresentasikan dengan suatu set stimuli jawaban mereka yang dapat menunjukkan ke dalam angka. Teknik tes ini digunakan untuk memperoleh data tentang hasil belajar siswa. Soal tes digunakan untuk mengukur hasil belajar IPS siswa pada materi pelajaran yang telah disampaikan guru yaitu KD 2.1. Mendeskripsikan perjuangan para tokoh pejuang pada masa penjajahan Belanda dan Jepang. Tes ini berisi 20 pertanyaan yang berbentuk soal objektif pilihan ganda dengan 4 pilihan jawaban.


DAFTAR PUSTAKA

Abidin. 2014.
Hubungan Motivasi Belajar dengan Hasil Belajar IPS di MI Taman


Bakti Bogor.


Skripsi. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah.

Arikunto, Suharismi. 2006.
Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.

Jakarta: Rineka Cipta.

Dalyono. 2012.
Psikologi Pendidikan.
Jakarta: Rineka Cipta.

Dimyati dan Mudjiono. 2006.
Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Djaali. 2008.
Psikologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Djamarah, Syaiful Bahri. 2008.
Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Hamalik, Oemar. 2001.
Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Hanafiah, Nanang dan Suhana, Cucu. 2010.
Konsep Strategi Pembelajaran.

Bandung: Refika Aditama.

Koeswanti, Heny D. 2013.
Hubungan antara Motivasi Belajar dengan Hasil


Belajar PKn pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Kranggan Temanggung

.

Skripsi. Salatiga: Universitas Kristen Satya Wacana.


Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar


Isi

. Jakarta: Depdiknas.

Sapriya, dkk. 2006.
Pembelajaran dan Evaluasi Hasil Belajar IPS. Bandung: UPI

Pers.

Sardiman. 2012.
Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali

Pers.

Slameto. 2010.
Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya.
Jakarta: Bumi

Hubungan Motivasi Belajar Dengan Hasil Belajar

Source: https://ramadania4creg.blogspot.com/2017/06/proposal-penelitian-korelasi-antara.html